SANG KUMBAKARNA

sang-kumbakarna

Sang Kumbakarna

Naskah : Ony S.

SINOPSIS

Diceritakan satu per satu panglima perang Alengka mati dalam pertempuran melawan pasukan Gowa Kiskenda. Dasamuka gusar. Siapakah yang bisa menandingi kehebatan Anoman dan Rama? Dasamuka lalu memanggil Kumbakarna yang tengah bertapa di Panglebur Gangsa.

Kumbakarna akhirnya berangkat ke medan pertempuran, tetapi bukan untuk membela keserakahan Rahwana, ia berperang untuk membela negerinya.

SUMBER CERITA DIAMBIL DARI “ANAK BAJANG MENGGIRING ANGIN”

KARYA SINDHUNATA

Diceritakan satu per satu panglima perang Alengka mati dalam pertempuran melawan pasukan Gowa Kiskenda. Dasamuka gusar. Siapakah yang bisa menandingi kehebatan Anoman dan Rama? Dasamuka lalu memanggil Kumbakarna yang tengah bertapa di Panglebur Gangsa.

Kumbakarna akhirnya berangkat ke medan pertempuran, tetapi bukan untuk membela keserakahan Rahwana, ia berperang untuk membela negerinya.

DI PANGGUNG TERBENTANG KELIR BESAR MENYAJIKAN PEPERANGAN DASYAT PASUKAN KERA DI BAWAH PIMPINAN RAMA WIJAYA MELAWAN PASUKAN PRAJINEMAN KERAJAAN ALENGKA.

KUMBAKARNA

(BANGKIT DARI TAPA TIDURNYA)

Rahwana, kau boleh memperbudak aku dengan membelenggu badanku, tapi kau tidak dapat membunuh jiwaku. Kau boleh merantai tangan dan kakiku untuk menuruti nafsumu, tapi kau tidak dapat memperbudak pikiranku, karena ia adalah bebas seperti burung yang terbang di langit.

KUMBAKARNA GONTAI LANGKAHNYA. KUMBAKARNA HENDAK PERGI UNTUK MATI, MENYUSUL PAMANNYA PRAHASTA DAN KEDUA ANAKNYA KUMBA ASWANI DAN ASWANI KUMBA YANG TERCINTA.

DEWI SUKESI

(MASUK SAMBIL MENANGIS)

Kumbakarna, jangan tinggalkan aku, Nak!

KUMBAKARNA

(BERPALING, KEMUDIAN BERLARI MENUJU IBUNYA)

Ibu, aku pamit mati. Aku pamit mati, Ibu

(PANDANGAN DEWI SUKESI BERUBAH MENJADI MERAH DARAH)

Ibu, kenapa kau tatap aku dengan mata yang tanpa belas kasih, sedang hendak aku memohon kasihmu dalam perjalanan kematianku?

DEWI SUKESI

Nak, maafkanlah Ibumu

(MENYANYI)

Gelap pun gulita

Dengan empat nafsu cahaya

Anak bajang menyalakan dian

Teja darpasura

Bumi bergoncang

Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Inilah penyesalan dari dosa yang telah Ibu perbuat karena belenggu nafsu, saat Ibu gagal menghayati Sastra Jendra Pangruwating Diyu.

Nak, kurangkaikan dosa-dosa dan penyesalanku di lehermu. Lihatlah Nak, untaian dosa-dosa itu tidak kalah indahnya dengan mutiara. Jalanmu yang menderita tidak akan kalah indahnya dengan mutiara. Jalanmu yang menderita akan menyemarakkan keindahan itu.

KUMBAKARNA

Ibu, berikanlah untaian mutiara dosa dan penyesalan itu padaku. Akan kubawa dia dalam perjalanan kematianku.

DEWI SUKESI

Terimalah perhiasanku ini, Nak.

(PEREMPUAN TUA ITU MENGALUNGKAN UNTAIAN KEMBANG KENANGA DI DADA KUMBAKARNA)

KUMBAKARNA

Ibu, ijinkanlah aku berangkat ke Suwelagiri. Aku pamit mati, Ibu.

KUMBAKARNA MELANGKAH PERGI

PARA PRAJINEMAN MENYAMBUT SANG PERKASA KUMBAKARNA DENGAN SUKA CITA DAN GEGAP GEMPITA.

PARA PRAJINEMAN

(TERTAWA)

Yen wani nyedako e lha dalah satruku

Sido ajur thro – thro yen wani amrana

Lebur kabeh thro – thro yen teko akena

Dak gempur dak ajur dadia wusatruku

PRAJINEMAN 1

Hoi para Prajineman Alengka, ayo kita gempur Sewalagiri

PRAJINEMAN 2

Saya sudah kebelet ingin merobek-robek mulut munyuk-munyuk itu

PRAJINEMAN 3

Kalau saya ya pengin keramas

PRAJINEMAN 4

Watatita… Dalam keadaan darurat militer kok malah keramas?!

PRAJINEMAN 3

Lha wong saya pengen keramas dengan darahnya si Anoman kok

PRAJINEMAN 4

Kalau saya pengen bertempur melawan Anggada biar gadanya Anggada saya bikin cukil slilit

(PARA PRAJINEMAN DAN PRAJINEMAN TERTAWA)

Yo ayo yo ayo yedhao aku ora bakal gigrik

Yo ayo yo ayo yedhao aku ora bakal gigrik

PASUKAN KERA MUNCUL, MAKA PEPERANGANPUN TERJADI. PASUKAN ALENGKA BERHASIL DIPUKUL MUNDUR.

KUMBAKARNA DENGAN TENANG MELANGKAH MAJU KE MEDAN PEPERANGAN DENGAN KEPASRAHANNYA MENYAMBUT  AJAL.

PASUKAN KERA MENYERANG KUMBAKARNA, NAMUN DENGAN MUDAH DIKALAHKAN.

IA INGIN GUGUR DEMI MEMBELA NEGERINYA DAN BUKAN MEMBELA KESERAKAHAN RAHWANA.

 

Kumbakarna kinen mangsah jurit,

Mring kang rak sira tan lenggana,

Nglugguhi kasatriyane,

Ing tekad datan purun,

Amung cipta labih nagari,

Lan nolih yayahrena,

Myang luluhuripun,

Wus mukti aneng Ngalengka,

Mangke arsa rinusak ing bla kali,

Punagi mati ngrana.

 

Terjemahan :

Kumbakarna diperintah maju perang, oleh Kakandanya ia tidak menolak, menepati (hahekat) kesatriaannya, (sebenarnya) dalam tekadnya (ia) tak mau, (kecuali) membela negara, dan mengingat ayah-bundanya, telah hidup nikmat di negeri Alengka, (yang) sekarang akan dirusak oleh barisan kera, (Kumbakarna) bersumpah mati dalam perang.

KUMBAKARNA

Adikku, Wibisana, dimanakah kau? Aku datang Wibisana, surgakanlah aku segera

HUJAN ANAK PANAH BERKELEBATAN, BERPENDAR-PENDAR CAHAYANYA. LANGIT MENJADI GELAP MENYONGSONG SUKMA  SANG KUMBAKARNA.

 

MUSIK PENUTUP

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *